Cuma Keluyuran

Bukan Jalan-Jalan Cuma Keluyuran

Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Sabtu, 27 Juni 2015

Seuntai Cerita Tentang Negeri Serumpun Sebalai, Pulau Bangka (Part One)

Negeri Serumpun Sebalai (Photo by : Panoramio)
.:: Cuma-Keluyuran ::. - Terkenal sebagai salah satu penghasil bijih timah terbesar di dunia, Kepulauan Bangka Belitung bisa dibilang sebagai provinsi baru di Indonesia. Provinsi hasil pemakaran Sumatera Selatan ini secara geografis berada di sisi pesisir timur Pulau Sumatera, yang terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung.

Disamping menyimpan kekayaan alam yang sangat potensial, sebagai penghasil lada putih dan bijih timah Kep. Bangka Belitung juga menyimpan potensi wisata yang tidak kalah indah dengan destinasi-destinasi lain di pelosok Negeri ini. Belitong yang sontak menjadi sangat populer setelah film Laskar Pelangi dirilis karena menyajikan visualisasi panorama alam dan pantainya yang berpasir putih dengan dihiasi hamparan batu granit yang sangat menakjubkan. Begitu juga dengan Bangka, gabungan kuliner, bangunan bersejarah dan alamnya yang indah menjadikan pulau ini sebagai destinasi yang wajib dikulik oleh para traveller.

Hari sabtu, 8 Februari 2014 merupakan kunjungan perdana saya ke Negeri Serumpun Sebalai (julukan untuk Pulau Bangka). Check-in sekitar pukul 07:00 WIB di Bandara Internasional Soekarno Hatta, saya dan keluarga sudah bersiap untuk menunggu penerbangan pagi menuju Pulau Bangka dengan menggunakan maskapai singa berwarna merah (You know lah ya..). Beruntung pagi itu kami tidak perlu menunggu terlalu lama, pesawat kami pun lepas landas sekitar pukul 07:30 WIB dan pada pukul 08:45 WIB kami sudah sampai di Bandar Udara Depati Amir, Pangkal Pinang. Sengaja saya ngambil penerbangan paling pagi, biar di Bangka-nya bisa explore ke banyak tempat.

Kedatangan saya dan keluarga ke Pulau Bangka memang hanya untuk kepentingan jalan-jalan aja dan kebetulan si Bapak udah dari seminggu sebelumnya berada di Pulau ini untuk melakukan perjalanan dinas. Yeay.. singkat kata singkat cerita untuk trip ini seluruh biaya ditanggung sama ayahanda, mulai dari penginapan, makan, akomodasi selama disana dan cuma bermodal tiket PP pesawat (Alhamdulillah, rezeki anak sholeh). Karena dijadwalkan hanya 2 (dua) hari aja sampai hari Minggu di Pulau Bangka, tentu saya sangat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya mengekspolore keindahan negeri penghasil timah ini.

BANDARA DEPATI AMIR


Bandar Udara Depati Amir
Pagi yang cerah menyambut saya! Tiba di Bandar Udara Depati Amir, Pangkal Pinang kami sudah dijemput oleh mobil sewaan yang siap mengantar kami untuk keluyuran di Pulau Bangka. Sejujurnya pagi itu mata masih sepet banget a.k.a ngantuk berat karena Sabtu malamnya saya masih harus lembur untuk menyelesaikan pendingan pekerjaan sampai larut malam tetapi entah kenapa untuk urusan travelling rasa capek dan ngantuk hilang dalam sekejap. Racun banget emang deh!

MAKANAN KHAS BANGKA "Mie Koba"
Mie Koba


Berhubung waktu masih pagi, kami dibawa kesalah satu kedai untuk sarapan. Ya, ini dia yang Mie Koba. Mie khas Bangka dengan kuah ikan yang cukup menyengat. Kedai mie koba sangat mudah ditemui di Pangkal Pinang. Jadi, kamu nggak perlu khawatir/ kesulitan untuk mencari pedagang mie koba. Untuk yang baru pertama kali mencoba mie ini, kamu harus siap-siap merasa sedikit 'jeleh' (You know what that means jeleh? Jeleh is rasa kurang nyaman di lidah. Hahaha) karena rasa amis dari kuah ikannya tadi (versi lidah saya ya..).

Sebetulnya mie-nya itu enak, tetapi kuahnya yang agak manis & sedikit amis buat nafsu makan pagi itu sedikit berkurang dan alhasil 1 (satu) porsi mie koba nggak saya habisin. Beda lagi sama ponakan saya, nggak tau doi laper atau gimana tapi satu mangkok mie koba habis seludes-ludesnya sampai kuahnya di kuyup.

Sebetulnya, setiap meja makan udah disediain jeruk khas Bangka, jeruk ini mirip jeruk limau tapi bentuknya yang agak sedikit besar dan rasanya yang tidak terlalu asam. Jeruk ini dapat meredakan rasa amis dari kuah mie koba. Intinya You have to try lah..

Setelah mencicipi salah satu kuliner khas Bangka, tanpa membuang-buang waktu kami pun segera bergegas melanjutkan perjalanan dan penjelajahan pun dimulai!

BUKIT FATHIN SAN

Gapura Bukit Fathin San (Photo by : CintaBangkaBelitung)
Vihara Fathin San

Bukit yang berada di daerah Sungai Liat menjadi bidikan pertama kami. Vihara Fathin San atau yang lebih dikenal dengan Bukit Budha merupakan salah satu objek wisata religi yang tak boleh dilewatkan ketika kamu mengunjungi Pulau Bangka dan mampir ke Kota Sungaliat. Kuil ini adalah tempat peribadatan umat Budha yang mayoritas pemeluknya adalah masyarakat Bangka keturunan Tionghoa.

Objek wisata Vihara Fathin San ini lokasinya berada di Bukit Betung, Sungai Liat Kabupaten Bangka. Untuk menuju Kuil Fathin San, kamu dapat menempuh perjalanan selama 30 menit dari pusat Kota Sungailiat. Perjalanan menuju Kuil Fathin San membuat saya cukup terperanga gaes, karena kami diajak untuk melewati jalan pedesaan yang tidak lebar dan sepi. Sampai akhirnya kami menemukan sebuah gapura berwarna merah yang bertuliskan FATHIN SAN dengan jalan yang belum di aspal. Pada awalnya memang saya agak sedikit ragu untuk memasuki kawasan objek wisata ini, karena sudah kepalang tanggung dan rasa penasaran kami memutuskan untuk tetap mendaki Bukit Fathin San.

Sesampainya di atas, kamu akan disuguhkan oleh bangunan besar yang didominasi oleh warna merah yaitu Vihara Fathin San. Vihara ini terlihat sangat indah dan kokoh dengan ukiran atapnya yang khas dimana di sisi bawah vihara terdapat kolam iklan dengan dihiasi patung naga. Saya dan keluarga sempat mengabadikan beberapa foto di Kuil tersebut. Sayangnya pintu Vihara ini terkunci rapat sehingga kami tidak bisa mengintip apa aja yang ada di dalam Kuil.
Vihara Fathin San
Dari area parkir Kuil Fathin San untuk menuju ke Bukit Budha kamu harus mendaki +/- 300-an anak tangga. Hal ini juga yang menyurutkan rasa penasaran saya untuk melihat keseluruhan wilayah Bukit Fathin San. Baru setengah perjalanan pendakian, saya memutuskan untuk turun. Sebetulnya bukan persoalan harus naik anak tangga yang jumlahnya lumayan itu bro tapi juga lokasi ini sepi pengunjung. Sejauh pengamatan saya yang kesitu cuma saya dan keluarga saya. Entah memang hari itu nggak ada jadwal ibadah atau memang lokasi ini bukan destinasi yang diincar oleh para traveller.

Belum lagi ditambah aroma dupa/hio yang dibakar sudah tercium sepanjang anak tangga yang saya lalui makin buat bulu kuduk makin merinding plus gong-gong-an suara anjing. Auuuu.. (Eh itu suara anjing apa serigala ya?). Makin-makin deh pupus hasrat saya buat naik lebih tinggi lagi. Belum lagi saya harus melakukan pendakian  ini sendirian, ya maklum lah kalo orang tua mah naik-naik bisa encok. (Pembelaan! Udah ah mimin banyak alesan deh, bilang aja takut..) Hahaha..

Patung Budha & Dewi Kuan Yin 
Patung Dewi Kuan Yin (Kiri) & Budha (Kanan) (Photo by : Stillego)
Padahal di atas sana terdapat patung Budha & Dewi Kwan Yin berukuran besar. Dari atas Bukit Betung pula kita bisa melihat panorama menakjubkan karena view Kota Sungailiat bisa dilihat seluruhnya dari atas bukit. Walaupun begitu, saya nggak terlalu kecewa karena kita sudah bisa melihat view Kota Sungailiat dari sisi samping Kuil. Pemandangan hijau dan menyegarkan terpampang nyata dihadapan saya. Awesome pokoknya!

KUIL DEWI KUAN YIN

Vihara Kuil Dewi Kuan Yin (Photo by : Jotravelguide)
Puas menghabiskan waktu di Bukit Fathin San, kami melanjutkan perjalanan ke Kuil Dewi Kuan Yin yang letaknya masih berada di Kota Sungailiat. Nggak terlalu sulit untuk menemukan vihara ini, karena lokasinya searah jalan pulang. Vihara ini terletak di Desa Jelitik, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka. Dari lokasi Kuil Fathin San hanya membutuhkan waktu +/- 30 menit perjalanan.

Seperti pada umumnya tempat ibadah umat budha, suasana religious akan langsung KAMU rasakan ketika memasuki kuil ini. Wewangian dupa yang dibakar serta lantunan lagu-lagu doa yang diputar semakin membuat rasa damai dan nyaman bagi setiap pengunjung yang datang ke Vihara ini. Kebetulan pada saat kami berkunjung ke sana, ada seorang penunggu vihara (kami memanggilnya Kyu). Kami disambut dengan ramah dan antusias. Beliau juga yang menemani kami sekeluarga melihat isi kuil dan bercerita banyak hal.

Keistimewaan kuil ini, terdapat sebuah kolam yang berisikan mata air jernih yang ditumbuhin oleh bunga teratai yang indah. Maka tidak heran banyak yang menyebut kuil ini dengan nama Taman Bunga Teratai Kuil Dewi Kuan Yim. Konon katanya, kepercayaan setempat jika kita mandi atau membasuh air dari kolam ini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan membuat wajah kita awet muda (namanya juga mitos, boleh percaya/ nggak).

Kolam Pemandian Taman Teratai

Kolam Teratai (by : riyo-wu11)
“Titiek Puspa, sering lho datang ke kuil ini untuk mandi dan berdoa” cerita Kyu. Pengunjung umum juga diperbolehkan untuk mandi di tempat ini. Tapi untuk hal yang ini nggak saya lakukan, cukup lah minum dan basuh muka aja. Entah kenapa saya ngerasain suasana sejuk banget ketika berada di kuil ini, padahal cuaca di luar terik banget. Saya juga sempat minum beberapa gelas air yang diambil dari sumur yang ada di Kuil Dewi Kuan Yin, terasa ditenggorokan sangat adem dan sejuk. Makyees..

Menurutnya, air di kuil ini merupakan satu-satunya sumber mata air di Pulau Bangka yang tidak memiliki kandungan timah (0%) dan sudah dilakukan uji coba dilaboratorium bahkan sampai ke Negeri Belanda. Air sumur ini juga tidak perlu diolah lagi, sehingga bisa langsung dikonsumsi. Padahal secara secara geografis Bangka merupakan penghasil timah jadi nggak perlu heran ketika kamu berhenti di pom bensin/ mushola atau masjid untuk sekedar berwudhu ataupun buang air, kamu akan mendapati air yang kurang bersih dan sedikit berwarna kuning.
Air di Sumur Ini Bisa Langsung di Konsumsi (Photo by : Riyo-Wu11)
Kyu juga banyak bercerita tentang toleransi umat beragama di lingkungan Desa Jentik yang sangat harmonis. Di deket kuil terdapat sebuah Masjid yang letaknya saling berdekatan.

“Jika hari-hari besar keagaman seperti halnya Idul Fitri, pada saat solat Ied area parkir vihara dapat dipergunakan untuk parkir kendaraan umat Muslim yang sedang menjalankan ibadahnya begitu pun sebaliknya”, Cerita Kyu.

Diakhir pertemuan, saya dan kaka sepupu mencoba untuk diramal oleh Kyu dengan menggunakan lidi. Ini sih untuk seru-seruan saja, nggak terlintas sedikit pun difikiran untuk percaya apapun hasilnya nanti. Takutnya nanti malah syirik.

“Tutup mata, lalu kocok wadah lidi tersebut sambil kamu fikirkan apa yang diingikan sampai salah satu lidi keluar”, kata Kyu sambil kasih intruksi ke saya. Dan sampai akhirnya salah satu batang lidi pun keluar dari wadah kocokan. Kyu pun mengambil lidi tersebut dan mulai membaca apa arti dari setiap tulisan yang terdapat dalam kertas ini. Cuma seru-seruan aja, lantas kami pun pamit.

TANJUNG PESONA BEACH 

Tanjung Pesona Beach (by : Yusantizhou)
Dari sini, kami melanjutkan perjalanan mengarah ke destinasi berikutnya yaitu Pantai Tanjung Pesona. Sudah tidak diragukan lagi, Bangka memiliki deretan-deretan pantai yang cantik dan mempesona. Salah satu yang menjadi favorit adalah Pantai Tanjung Pesona. Pantai ini memiliki sebuah gazebo yang mengarah ke pantai yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk menikmati panorama laut lepas.

Selain itu, pantai ini juga memiliki pasir putih yang halus serta batuan granit besar khas Pulau ini. Namun nggak banyak yang saya lakukan, karena saya datang ke pantai ini tepat pada siang hari bolong. Cuacanya pun masih terasa sangat panas untuk berenang ditambah ombak yang kurang bersahabat siang hari itu. Saya dan keluarga akhirnya beranjak ke sebuah resto yang berada di sisi selatan Pantai Tanjung Pesona untuk menikmati secangkir plus pisang goreng kremes sambil merasakan semilir angin pantai. Asoy...

Pukul 02:00 WIB dan cuaca pun sudah tidak terlalu terik, kami melanjutkan perjalanan untuk makan siang. Kamis singgah di salah satu restaurant yang menyediakan makanan laut khas Pulau Bangka. Recommended banget untuk dicoba, sayangnya saya sudah lupa nama restonya. Googling aja ya, lumayan terkenal kok pokoknya ke arah Daerah Matras, Sungailiat.

PARAI BEACH

Jembatan Penghubung ke Rock Island (Source : Pantail)
Kenyang menyantap hidangan laut, mobil kami pun dipacu mengarah ke daerah Matras, Sungailiat karena disana terdapat sebuat pantai yang paling popular dan ekslusif di Pulau Bangka yaitu Pantai Parai Tenggiri. Pantai ini bisa dibilang sebagai jawaranya pantai yang ada di Timur Pulau Bangka. Kok bisa bilang gitu sih min? Ya.. Pantai Parai Tenggiri memiki kontur yang landai serta pasir putih yang bersih. Selain keindahan pantainya, yang menjadi daya tarik wisatawan adalah gugusan batuan granit besar alami yang berserakan di sepanjang pantai yang tentunya semakin membuat pantai ini eksotis.

Pantai ini dikelola oleh sebuah Resort, jadi untuk setiap pengunjung yang masuk dikenakan biaya 50K IDR Parai Resort Beach & Spa memiliki banyak fasilitas seperti restaurant, watersport (banana boat & jetsky), kolam renang dan cottage. Semua fasilitas ini tentunya siap memanjakan liburan bahari kamu selama berada di Sungailiat. Untuk harga rate per kamarnya, saya kurang tahu karena memang nggak ada niat-an untuk bermalah di Sungailiat. Sepertinya sih harga sewa kamarnya umayan mahal, karena Parai Resort Beach & Spa tergolong resort bintang empat.

Oh ya... Diujung sebelah kiri pantai terdapat sebuah gugusan batu yang berukuran besar dan membentuk formasi yang begitu indah dimana disana terdapat sebuah restaurant bar & grill yang bernama Rock Island. Akses menuju Rock Island, kamu akan melewati sebuah jembatan dengan penerangan lampu di sepanjang tepi kanan dan kiri jembatan. Kalau saya bilang ini salah satu tempat yang romantis, apalagi kalau menjelang sore lampu-lampunya mulai nyala membuat pemandangan ini semakin sempurna. Kamu dapat berjalan kaki sambil menikmati pemandangan laut dan deburan ombak di Pantai Parai. 

Kami sekeluarga menghabiskan sore di pantai ini dengan berenang dan mengabadikan setiap sudut di Pantai Parai. Jepret..Jeprett..
Landscape Parai Beach
Pantai Parai Tenggiri
Suasana Menjelang Malam Bro..

KOPI TUNG TAU

Di Kedai Kopi Tung Tang
Bagi pecinta kopi, jangan lewatkan untuk menyeruput kopi khas Bangka. Kedai-kedai kopi khas Bangka yang terletak disepanjang jalan Kota Sungailiat siap menggoda iman. Saya dan keluarga menyempatkan untuk sejenak minum kopi disalah satu kedai kopi “Tung Tau”, rekomendasi dari kaka sepupu. “Ini salah satu kedai kopi yang sudah terkenal dari jaman dulu dan wajib dicoba ”, ucapnya. Sekilas memang nggak ada yang beda dengan kopi Tung Tau, warnanya yang hitam pekat dan harumnya yang khas sungguh memanjankan lidah. Yuk coba!

Waktu makin larut, kami memutuskan untuk kembali ke Kota Pangkal Pinang untuk beristirahat dan bermalam disana. Kami check-in di Hotel Bumi Asih. Hotel ini lokasinya berada di pusat Kota Pangkal Pinang. Rasanya tulang kaki saya sudah mau copot seharian mengekplore Kota Sungailiat. And good night everybody, malam itu tidur saya berasa sangat nyenyak. See you tomorrow dan udah nggak sabar untuk merencanakan jelajah kuliner dan alam Pulau Bangka.

To be Continued....

2 komentar:

Ada pertanyaan atau mau share pengalaman? Silahkan..

Post Top Ad

Your Ad Spot