Cuma Keluyuran

Bukan Jalan-Jalan Cuma Keluyuran

Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Minggu, 21 Juni 2020

Hampir Nyerah di Ranu Kumbolo, Catatan Pendakian Puncak Mahameru (Part-2)

Gapura Pendakian
Day-2, (02 Agustus 2019)
#CumaKeluyuranSelamat Datang di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru - Para Pendaki Semeru. Yak, dari gapura ini trekking kami pun dimulai! Sore di Ranu Pani kala itu masih cukup terik. Kami start dari sini pukul 16:00 dengan estimasi waktu tempuh 4-5 jam. Jadi bisa dikira-kira kami akan sampai Ranu Kumbulo pukul 8-9 malam. Walaupun ini bukan kali pertama saya trekking malam tapi lumayan deg-degan mengingat infonya masih banyak hewan liar di hutan Gunung Semeru. Bismillah..

Awal trekking kamu akan melewati jalanan aspal dengan view hamparan kebun warga yang hijau yang pastinya bikin kamu tambah semangat. Dari gapura ini perjalanan sudah mulai menanjak. Ngos-ngosan? Pasti! Tapi setelahnya lumayan agak landai kok. Jadi lumayan bisa atur nafas. Trek dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo bisa dibilang dalam kategori yang sedang (tidak extreme), hanya saja jaraknya yang cukup panjang.
View Awal Trekking
Jalur Pendakian
Jarak dari Pos 1 ke Pos 2 relatif dekat, trek-nya pun tidak sulit. Nah, dari Pos 2 menuju Pos 3 jalurnya mulai naik turun namun tidak curam kok. Secara jarak memang lebih jauh tapi ini yang paling ngangenin selama di perjalanan kami disuguhi pemandangan matahari terbenam yang aduhay banget. Uuh.. indah bangeet! Langitnya bener-bener orange dengan perpaduan gradasinya. Dari Pos 3 perjalanan kami sudah mulai gelap dan otomatis jarak pandang pun terbatas karena hanya bergantung pada penerangan senter/ headlamp. Disini tantangannya, gimana kami harus extra hati-hati disetiap langkah. Jangan sampai tersangkut/ tersandung, jangan sampai salah injak, jangan sampai terperosok dll. 
Bonus Trekking Sore
Track dari Pos 3 ke Pos 4 akan dimulai dengan tanjakan yang sangat curam, bisa disebut ini jalur No BONUS, jadi siapin tenaga extra ya. Setelah melewati tanjakan itu penderitaan kamu berakhir kok karena jalurnya mulai landai dan menurun. Udara yang awalnya terasa sejuk berubah menjadi dingin. Di trek ini pun saya sudah mulai memakai jaket untuk menghalau rasa dingin yang makin terasa. Makin mendekati Ranu Kumbulo udaranya makin terasa dinginnya. Mungkin karena efek lapar juga kali ya?

Perjalanan dari Pos 4 menuju Ranu Kumbolo pun mulai terasa lebih mudah dan langkah kaki tidak berat. Sesekali kami pun melangkahkan kaki lebih cepat agar cepat sampai di Ranu Kumbolo. Kenapa? Karena kami faham betul ini bukan pendakian mudah, maka dari itu kami harus segera beristirahat.

Tiba di Ranu Kumbolo
Akhirnya tiba juga di Ranu Kumbolo, entah pukul berapa saya sendiri pun ingat dan nggak sempat untuk lihat jam. Sampai di Ranu Kumbolo kami bergegas untuk cari tempat dan mendirikan tenda. Kebetulan tenda ada di keril saya. Asli udaranya dingin bangeeet. Setelah tenda terbangun, buru-buru saya masuk ke dalam tenda karena udah enggak kuat sama dinginnya! Nggak kefikiran lagi buat nyalain kompor apalagi masak. Alhamdulillah bekal nasi bungkus dan lauk saya masih ada. Tanpa menunggu lagi saya langsung makan dengan lahap walaupun nasi dan lauknya sudah dingin. 

Urusan perut sudah kelar, saya melanjutkan untuk ganti pakaian dengan baju lengan panjang dan jaket. Engga lupa juga untuk balurin minyak kayu putih di beberapa bagian tubuh. Satu lagi, minum "Tolak Angin". Haha.. Alhamdulillah kondisi tubuh jauh lebih enak dan hangat. Malam pun makin larut, kami siap-siap untuk tidur. 

Tenda yang kami dirikan ini kapasitas 4 (empat) orang. Total di dalam tenda pun ada 4 (empat) orang. Secara logika memang sudah pas tapi berhubung 2 dari rekan kami bertubuh besar dan barang-barang tidak kami rapikan dengan benar membuat tenda kami terasa sempit. Belum lagi posisi tidur saya yang berada di paling pinggir. Ah.. Ini bukan posisi favorit!

Dengan posisi saya yang tidak strategis mulai tuh terasa hembusan angin dingin Ranu Kumbolo yang masuk dari celah-celah bawah tenda. Sekitar 30 menit berlalu, saya masih bisa tahan sampai kurang lebih sejam tiduran mulai gelisah bahkan untuk merem pun sama sekali nggak bisa. Akhirnya, saya memutuskan untuk pindah ke tenda sebelah yang secara kapasitas jauh lebih besar dan kebetulan di dalam hanya ada 2 (dua) orang saja. Brrrrr.... Baru sekali ngerasain keluar tenda dengan udara yang sedingin itu. 

Udah nggak pake izin lagi, langsung masuk dan untungnya yang punya tenda pun udah tertidur lelap. Buru-buru tutup tenda, pakai sleeping bag dan kuplukan. Better sih seenggaknya kaki nggak ketekuk dan nggak sempit. Tapi entah kenapa makin malam, Ranu Kumbolo hawanya terasa makin nggak ke kontrol, bener-bener serasa di dalam kulkas. Sekuat tenaga saya untuk memejamkan mata dengan harapan biar cepat tidur tapi nyatanya nggak bisa. Sesekali saya bangun untuk duduk dan menggosokan telapak tangan pakai minyak kayu putih. Lalu mencoba lagi buat tidur, tapi tetap nggak bisa! Udah nggak kehitung juga berapa kali saya bangun, mulai tuh fikiran-fikiran aneh merasuk.

"Jangan sampe mati di sini ya Allah", "Jangan sampe nyusahin orang di sini ya Allah", "Jangan sampe hipotermia ya Allah", emang agak drama sih tapi serius sempat kefikiran hal-hal kayak gitu. Terus mental juga mulai down tuh, kefikiran di Ranu Kumbolo aja dinginnya kayak gini apalagi nanti pas summit?" kuat nggak ya? Bahkan dalam hati sudah berniat besok pagi mau balik ke Ranu Pani. Akhirnya pukul 03.00 dini hari saya berdoa "Ya Allah tolong saya kasih kekuatan untuk bisa tahan dinginnya Ranu Kumbolo sampai pagi ini saja dan semoga matahari segera terbit" sembari membaca doa sebisa saya. Alhamdulillah, mata makin berat tuh dan bisa tidur dengan nyenyak. 

Day-3, (03 Agustus 2019)
Pagi menyapa, suara-suara dari tenda sebelah pun mulai berisik dan membangunkan saya. Wuhuu.. nggak nyangka bisa melewatkan malam di Ranu Kumbolo setelah drama-drama yang terjadi semalam. Terima kasih ya Allah! 

Saya tipikal traveller yang nggak pernah mau melewatkan moment, even kurang tidur sekali pun. Walau mata terasa berat dan udara masih dingin banget itu semua mengalahkan rasa penasaran untuk lihat view Danau Ranu Kumbolo di pagi hari. Brrrrr dingiiiiin.. Saya pun buka pintu tendanya dan bener aja view ciamik bangeeet! Surga ini sih.. Danaunya masih diselimuti kabut, berasa di film dongeng-lah.
Diambil Menggunakan HP Ala Kadarnya
Sengaja kami bangun tenda dengan posisi menghadap ke danau dengan tujuan saat kami bangun pagi bisa langsung menatap Danau Ranu Kumbolo. Belum lagi ditambah fenomena embun es yang memenuhi tenda kami. Mirip salju, berasa di luar negeri nggak sih? Ah gila, ini pengalaman pertama banget buat saya. Maaf agak lebay, tapi serius sekagum itu. 
Saljunya Rakum
Sejujurnya dari semalam pun saya sudah nahan kebelet mau buang air kecil tapi berhubung dingin dan nggak berani keluar jadi ditahan sampai pagi. Aah.. akhirnya plong juga, kayak di video berikut! Itu posisi habis nyari semak-semak yang jauh dari tenda untuk buang air kecil.

Explore Rakum
Ditemani segelas susu putih dan roti tawar + view Danau Ranu Kumbolo yang cantik, pagi saya kala itu tampak sebuah perfect! Sejenak melupakan kejadian semalam. Haha.. Matahari semakin naik, kesempatan untuk explore pun nggak mau saya lewatkan. Saya, Mbak Mel dan beberapa teman menyempatkan untuk berkeliling di sekitar Danau Ranu Kumbolo. Sudah pasti berfoto ria di beberapa area. Penting diingat, kamu boleh explore tapi tetap harus jaga kebersihannya ya.
Amazing Ranu Kumbolo
Foto di Ilalang
Danau Ranu Kumbolo
Untuk informasi saja bahwa Danau Ranu Kumbolo dipercaya oleh warga setempat sebagai tempat air suci yang airnya masih digunakan untuk ritual keagamaan sampai sekarang. Karena kesakralannya, pendaki dilarang untuk mandi, berenang, menginjakkan kaki ke air, apalagi buang air bahkan untuk ambil airnya pun tidak boleh menggunakan tangan langsung harus menggunakan wadah yang bersih dan seluruh kegiatan harus dilakukan dalam radius 10 meter dari bibir danau, termasuk mendirikan tenda. Salah satu tujuannya juga agar tetap terjaga kesuciannya. Larang-larangan ini pun sudah disampaikan saat briefing sebelum pendakian. Jadi, penting sekali untuk menyimak apa saja yang disampaikan oleh Tim Relawan Semeru saat sesi briefing.

Selesai explore, It's time to breakfast.. Ini juga yang ditunggu-tunggu, makan lesehan bareng sama tamen-temen. Makan apapun kalau di gunung semua jadi terasa nikmat. Hajaar! Kayak gini nih.. Nggak lupa juga mau mengucapkan terima kasih sama Mbak Sofi dan wanita-wanita lain yang sudah masak dan menyiapkan makanan lezat selama kami di Semeru. Uuh.. Big Thanks
Nyum.. Ngariung
Oh ya, ini kami nge-camp di Ranu Kumbolo-1 ya. 

Dari sini kami melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo 2 dengan tujuan akhir Pos Kalimati. Penasaran kan sama Tanjakan Cinta, Padang Oro-Oro Ombo, Pos Cemoro Kandang dan Jambangan? Ceritanya bersambung ke part berikutnya ya.. Don't miss it!

3 komentar:

  1. Keren, Mas, blognya. Gmn cara ngikutinya ya? Btw, dah keluyuran ke Lombok?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas, itu dibagian footer ada subscribe mas. Alhamdulillah sudah ke Lombok mas waktu itu main ke Gili dan Bukit Merese. Mas asli Lombok?

      Hapus
  2. Ada kali yaaa dibawah nol dercel suhunya? Sampe ada lapisan es gitu. Aku bakal suka sih kesini.. secara aku pecinta tempat dingin, kalo traveling aja slalu winter maunya. Makin minus suhu, aku makin seneng mas :D

    Tp ngerti banget kalo naik gunung beda cerita. Tanpa fisik terlatih ga bakal kuat sih. Hrs latihan fisik dulu kayaknya

    BalasHapus

Ada pertanyaan atau mau share pengalaman? Silahkan..

Post Top Ad

Your Ad Spot