Cuma Keluyuran

Bukan Jalan-Jalan Cuma Keluyuran

Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Jumat, 26 Juni 2020

Menuju Pos Terakhir Kalimati, Catatan Pendakian Puncak Mahameru (Part-3)

Danau Ranu Kumbolo
Day-3 (03 Agustus 2019) 
CumaKeluyuran | Perjalanan kami masih cukup panjang! Dari Ranu Kumbolo 1 kami melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo-2. Jaraknya relatif dekat hanya butuh waktu sekitar 10 menit saja. Lagi dibuatnya saya kagum dengan keindahan Danau Ranu Kumbolo. Sepanjang perjalanan mata kami  dimanjakan oleh warna hijau tosca air danaunya. Bikin mata seger. Daya magisnya kuat banget, seolah memanggil kami untuk segera sampai ke Ranu Kumbolo 2. 

Helo.. Ranu Kumbolo 2, panasnya mentereeng. Nah, seharusnya semalam kami buka tenda di sini berhubung sudah kelelahan akhirnya kami memutuskan untuk membuka tenda di Ranu Kumbolo 1. Secara fasilitas Ranu Kumbolo 2 jauh lebih lengkap karena terdapat fasilitas toilet basah dan mushola. Kalau di sini kamu nggak perlu khawatir saat kebelet mau buang air. Kamu cukup mengeluarkan biaya Rp 5.000,- saja untuk menggunakan toilet ini.
Track Menuju Ranu Kumbolo 2
Ranu Kumbolo 2
Tanjakan Cinta & Oro-oro Ombo
Pos selanjutnya  yang kami tuju adalah Cemoro Kandang. Ngomongin Pos Cemoro Kandang, kita akan melewati 2 (dua) tempat yang sudah sangat terkenal yaitu Tanjakan Cinta dan Oro-oro Ombo. Tanjakan Cinta letaknya persis ada di belakang Ranu Kumbolo. Buat yang pernah nonton Film 5cm pasti langsung nge-remind tuh percapakan salah satu aktornya saat naik ke Tanjakan Cinta. Konon mitosnya kalau kita melewati Tanjakan Cinta sambil terus memikirkan orang yang kita suka tanpa menoleh ke bawah/ belakang akan berjodoh. Ya boleh percaya, boleh nggak. Terus buat yang jomblo? Hehe.. Harap bersabar, mungkin jodohmu ada di Puncak Mahameru. Eea..

Sambil melihat ke atas dan tarik nafas yang panjaaang, saya mulai menapaki jalur Tanjakan Cinta. Sepanjang perjalanan melewati Tanjakan Cinta entah kenapa saya merasa mirip sama Genta (sosok pendaki yang diperankan oleh Fedy Nuril). Berasa keren aja gitu. Kapan lagi bisa muji diri sendiri? Haha.. Dititik ini pun saya sudah bangga banget bisa sampai Ranu Kumbolo. Di tengah perjalanan saya sempat menoleh ke belakang untuk melihat  Ranu Kumbolo dari atas, Uduuu... Asliii nggak bisa move on. Wooy toolooong! Kok bisa seindah itu, MasyaAllah.. 
Tanjakan Cinta, Aslinya lebih indah
Setibanya di atas, saya dan beberapa teman duduk sejenak untuk kembali mengatur nafas kami yang tersengal-sengal. Huh hah, inhale-exhale! Usai melewati Tanjakan Cinta kami dipertemukan oleh padang yang sangat luas, namanya Oro-Oro Ombo. Oro-oro ombo berisikan rumput dan tanaman cantik, Verbena Brasiliensis. Awalnya dulu saya mengira tanaman itu adalah Bunga Lavender, berkat sesi briefing juga saya jadi tau nama asli tanaman yang memiliki bunga berwarna ungu tersebut. Sayangnya saat kami ke sana Bunga Verbena-nya sedang tidak tumbuh, malah terlihat gersang. 

Jangan salah, walaupun tampak cantik namun tanaman ini sebetulnya merupakan gulma yang memiliki daya serap air tinggi. Akibatnya bisa membuat tanaman di sekitarnya ikut mati. Kamu boleh cabut tanaman ini tapi harus berhati-hati karena dikhawatirkan jika benihnya jatuh di tempat-tempat lain malah akan memperluas habitatnya. Kalau saya pribadi cukup menikmatinya saja.

Untuk mencapai Cemoro Kandang ada 2 (dua) jalur yang bisa kamu lalui. Pertama dengan memutari bukit dan menikmati Oro-oro Ombo dari atas atau langsung turun dan melewati kebun tanaman Verbena. Saya sendiri memilih opsi untuk melewati jalur bawah. 
Oro-Oro Ombo
Kangen semangka Semeru
Pos Cemoro Kandang (2.500 mdpl)
Selepas Oro-oro Ombo, kita akan sampai di Pos Cemoro Kandang di ketinggian 2.500 Mdpl. Serius siang itu panasnya bikin 'cekot-cekot'. Serasa matahari deket banget sama kepala. Berbanding terbalik sama cuaca semalam. Di sini saya istirahat lumayan agak lama dan juga membeli 2 potong semangka. Entah kenapa semangka di Gunung Semeru terasa begitu nikmat. Seger, dingin dan manis jadi satu. Untuk harganya Rp 2.500 per potong. Normal lah ya? Oh ya, hampir di setiap Pos Semeru pasti ada penjual buah dan gorengan. Jadi lumayan seenggaknya kamu bisa menghemat stock logistik. 

Meninggalkan Cemoro Kandang kami menuju Pos Jambangan. Dari sini treknya akan terus menanjak dengan menembus pepohonan yang tinggi dan lebat. Untuk sampai Pos Jambangan membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Adem dan rimbuh sih tapi treknya nggak ada bonus. Huft..

Untuk perjalanan menuju ke Jambangan saya ditemani oleh beberapa teman yang sudah pernah ke Semeru juga. Rata-rata langkah kaki mereka cepat, mau nggak mau memacu saya untuk mengimbangi mereka. Walalupun sesekali mereka harus menunggu saya, hehe.. Tapi Alhamdulillah masih dalam batas tolerir.

Jambangan
Pos Jambangan (2.600 mdpl) 
Dari Pos Jambangan, kita bisa melihat jelas Gunung Semeru berdiri dengan gagahnya seolah membuyarkan rasa capek yang ada dan terus mensugesti diri agar cepat sampai ke Pos Kalimati. Di pos ini saya terus memandangani  Puncak Mahameru. Sambil terus mikir 'dimana jalur pendakiannya ya?, bener-bener nggak kelihatan kalau dari bawah' 

Sudah pasti di pos ini pun kami berhenti sejenak melepas lelah dan nggak ketinggalan untuk makan sepotong semangka, sifatnya mandatory. Dan yang paling mandatory lagi adalah berfoto di papan Pos Jambangan-nya buat barang bukti. Hehe.. Senyuum yang lebar, 1..2...3 cekrek! 

Tenang aja perjalanan dari Jambangan menuju Kalimati terbilang asik kok karena kamu nggak akan lagi menemui trek menanjak. Jalurnya terus menurun sampai bertemu dengan padang rumput yang lapang. Untuk trek menurun seperti ini boleh kok kamu sesekali mempercepat langkah tapi sambil atur nafas ya. Jangan sampai kelelahan juga karena tujuan utama kita adalah Puncak Mahameru.

Pos Kalimati (2.700 mdpl)
Pos Kalimati merupakan pos terakhir sebelum mencapai puncak para dewa. Pos ini juga digunakan oleh pendaki untuk berkemah semalam lagi. Kami dan rombongan sampai di sini sekitar pukul 15:00. Sampai di Kalimati kami membagi 2 (dua) kelompok, kelompok pertama bertugas mencari tempat & mendirikan tenda sedangkan kelompok lainnya mengambil air bersih di Sumber Mani. 

Berbeda dengan Ranu Kumbolo, sumber air bersih di Kalimati lokasinya lumayan cukup jauh. Pulang pergi bisa menghabiskan waktu 1 (satu) jam. Kebetulan saya masuk ke dalam tim yang bertugas mengambil air bersih. Masing-masing dari kami membawa 2 botol Aqua kosong berukuran 1,5 liter untuk di refill dengan air bersih. Saya, Nouval dan Adam pergi lebih awal ke Sumber Mani untuk menghindari perjalanan pulang terlampau larut. Kenapa? karena selain digunakan para pendaki, tempat ini juga digunakan sebagai sumber air bagi penghuni hutan lainnya seperti macan kumbang dan hewan liar lainnya. Jadi, ikuti saja semua arahan Tim Relawan saat briefing agar kamu terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Pos Kalimati - Tepat dibelakangnnya Gunung Semeru
Untuk sampai ke Sumber Mani kamu akan melewati jalur menurun sampai dengan bertemu sumber air bersih. Kalau sayup-sayup sudah mendengar gemercik air artinya perjalanan kamu sudah mau sampai. Karena perjalanannya terus menurun otomatis saat pulang jalurnya akan terus menanjak. Nah, ini PR nya! Jangan sampai air nya nanti habis diperjalanan ya. Haha..

Tiba di Sumber Mani kamu bisa mencicipi air Gunung Semeru langsung dari sumbernya. Itu segeernya keterlaluan sih, kamu mesti coba! Untuk ambil airnya kamu juga harus bergantian dengan pendaki lain. Syukur-syukur sedang tidak ramai. Saat antri, kami bertemu dengan pendaki Bule asal Australia. Bermodalkan rasa percaya diri dan sedikit keberanian kami pun berkenalan dan ngobrol, walaupun dengan kosa kata yang terbatas. Recananya setelah dari Semeru dia akan berkunjung ke Bromo, Jakarta, Bali dan ke beberapa Negara Asean lainnya. Hebatnya lagi dia solo travelling. Udah nggak heran sih kalau bule itu hasrat explore-nya tinggi.

Setelah botol kami terisi penuh, kami bergegas kembali ke pos camp untuk beristirahat dan makan malam. Udah lapeeer banget! Seperti biasanya para wanita bertugas menyiapkan makan malam dengan sisa logistik yang masih ada. Di tengah persiapan makan malam, hujan pun turun yang membuat acara makan malam kami berakhir di tenda masing-masing.

Agak kaget juga sih turun hujan karena dari hari pertama sampai hari ketiga cuaca di Semeru super terik. Sempat bikin kefikiran, "ikut summit atau nggak"? karena dengan track yang normal saja bisa menghabiskan tenaga banget apalagi kalau hujan, pasti resikonya jadi bertambah. Duh.. buru-buru tuh nge-distract dengan main game di HP biar ngga kefikiran.

Rencana summit yang diagendakan start pukul 24:00 mengharuskan kami untuk tidur sebelum pukul 20:00. Tidak lain, tujuannya hanya agar tubuh kami benar-benar beristirahat secara full. Kami juga faham betul untuk sampai Puncak Mahameru membutuhkan persiapan yang matang dan fisik yang kuat. Semua resiko sudah dipikul oleh masing-masing pendaki. Waktu yang panjang dan track yang tidak mudah untuk sampai Puncak Mahameru adalah tantangannya. 

Masih penasaran kan, gimana berjuangnya kami saat summit? Ditunggu ya part selanjutnya..
Penasaran kan gimana ughtea ini naik sampai puncak?

1 komentar:

  1. mantap bro, saya ke bromo aja naik jeep lanjut naik kuda. baru naik tangganya sendiri eh sampai atas liat kawah takut ... turun lagi, memang tak pantas saya mendaki gunung :D

    BalasHapus

Ada pertanyaan atau mau share pengalaman? Silahkan..

Post Top Ad

Your Ad Spot