Cuma Keluyuran

Bukan Jalan-Jalan Cuma Keluyuran

Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Rabu, 17 Juni 2020

Pendakian Puncak Tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru (Part-1)

#CumaKeluyuran | Siapa yang nggak kenal Puncak Mahameru? Namanya begitu masyhur dikalangan pendaki, jauh sebelum film 5 cm booming. Gunung yang masuk dalam daftar 7 summit ini memang selalu menjadi wishlist destinasi pendakian.  Pokoknya banyak yang bilang belum sah jadi pendaki kalau belum ke Mahameru. Bahkan saya sendiri pun yang bukan seorang pendaki dari dulu pengen bangeet ke sana. Jujur sih termotivasi banget sama film 5 cm. Abis nonton film 5 cm mulai tuh berangan-angan ke Semeru, nggak muluk-muluk kalau nggak kuat cuma mau sampai Ranu Kumbolo aja (rencananya). Betul, namanya mimpi/angan-angan harus diniatin biar cepet kejadian. Alhamdulillah, pertengahan tahun lalu saya berkesempatan untuk melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Masih nggak percaya, saya punya energi sebesar itu.

Sampai tulisan ini di-release saya cuma mau berbagi bagaimana serunya pendakian ini dari kacamata seorang pemula seperti saya. Excited-nya tuh masih terasa banget sampai sekarang! Tentu sudah banyak review dari teman-teman blogger lain tentang bagaimana indahnya Semeru. 

Tepatnya Agustus 2019 lalu, saya dan beberapa teman dari Backpaker Jakarta (BPJ) punya agenda untuk melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Untuk pendakian kali ini dikoordinir oleh rekan kami dari Komunitas Backpacker Jakarta yaitu Bang Untung & Bang Yuda. Oh ya.. buat temen-temen yang punya hobi travelling boleh juga loh join kayak saya di Komunitas Backpacker Jakarta, bisa langsung kepo-in aja Instagram-nya di @backpackerjakarta

Karena trip ini share cost artinya semua keperluan dan biaya ditanggung bersama. Jauh sebelumnya, kami sudah prepare banyak hal mulai dari akomodasi, transport, perlengkapan dan pembagian logistik. Kebetulan kalau saya sendiri kebagian untuk membawa nesting, kompor, gas portable dan beberapa jenis snack/makanan.  Emang sih agak repot, tapi ini serunya share cost semua peserta pasti akan kebagian membawa barang bawaan untuk kepentingan bersama. Istilahnya setiap perserta jadi punya tanggung jawab gitu. Walaupun trip ini share cost tapi enaknya ikut BPJ serasa ikut open trip. Nggak pusing-pusing amat mikirin akomodasi & transport. 

Selain menyiapakan apa-apa saja yang harus dibawa, saya sendiri sangat concern untuk maintain fisik agar tetap fit. Ini sih yang paling penting. Harus banget kenal sama tubuh sendiri. Mind set-nya selalu kalau naik gunung "jangan pernah nyusahin orang". Sebenernya berlaku juga ketika kita travelling kemana pun. Makanya kalau saya pribadi setiap mau naik gunung minimal seminggu atau 2 (dua) minggu sebelumnya rajin lari pagi/ main sepeda dan sebisa mungkin nggak makan yang aneh-aneh. Biarin aja dibilang lebay karena saya faham betul kalau badan saya ini sangat ringkih, kena udara dingin aja bisa flu. Hehe..

Buat saya latihan endurance sebelum pendakian penting banget. Terasa banget sih efeknya apalagi kalau udah lama nggak lari terus tiba-tiba trekking dengan rute yang agak panjang pasti ngos-ngos-an. Ini belum tentu juga berlaku sama pendaki yang lain ya, ada kok teman saya yang memang fisiknya udah kuat. Manggul keril berkilo-kilo tapi pas trekking nge-jos banget (baca: jalannya cepet). Balik lagi, penting banget untuk kenal sama tubuh sendiri.

Disini saya juga nggak akan infokan detail apa-apa saja yang harus dibawa ketika melakukan pendakian karena teman-teman bisa langsung browsing sendiri dan disitu informasinya lengkap banget. Tapi buat saya, minyak kayu putih, tolak angin dan obat maag nggak boleh ketinggalan. Tiga barang itu hukumnya wajib dibawa selain barang pribadi lainnya. 

Meeting Point
Day-1, 01 Agust 2020
Hari pertama sudah barang tentu kami bertemu di stasiun tercinta, stasiun-nya para backpacker "Stasiun Pasar Senen", Jakarta. Hehe.. Ya ampuuun rindu banget naik kereta, udah hampir 3 (tiga) bulan nggak kemana-mana selama pandemik. Yuk berdoa terus semoga pandemik ini segera berakhir. Aamiiiin.. Back to story, moda transportasi kereta kami pilih tentu dengan alasan lebih ramah di kantong dan estimasi waktunya sudah pasti. Lah wong namanya backpacker tentu nyari yang murah meriah. 

Kereta kami berangkat sekitar pukul 15:15 WIB dengan tujuan akhir Kota Malang. Wuhuu.. Malang, I'm coming. Perjalanan menuju Malang membutuhkan waktu kurang lebih 16 jam. Teman-teman bisa memanfaatkan waktu dengan tidur/ istirahat full biar fresh atau bisa main poker/ ludo atau nonton film sama temen sebangku asal jangan rusuh aja biar penumpang yang lain tetap nyaman.

Di Kursi Yang Tegak ini Kami Masih Bisa Happy

Oh ya, ada sedikit cerita dibalik masalah perizinan untuk pendakian kali ini. Ada yang sama juga nggak ya kayak saya kalau mau naik gunung jarang dapat restu dari orang tua? Haha.. Even, kita yang sudah sebesar ini. Kultum nya bisa lebih dari 7 (tujuh) menit sendiri kalau izin mau naik gunung walaupun ujung-ujungannya diizin-in sih. Tapiii, khusus untuk ke Semeru saya izin bukan untuk naik gunung tapi bilangnya untuk pergi dinas ke Malang. Hahaha.. Daan orang tua pun percaya! Kocak sih ini, jangan dicontoh ya. Maksud hati sih baik, biar orang tua nggak cemas aja tapi teteup dosa guys.

Tiba di Malang
Day-2, 02 Agust 2020
Sampai di Stasiun Malang sekitar pukul 07:55 keesokan harinya. Alhamdulillah-nya angkot carter-an kami pun sudah standby. Tanpa membuang waktu kami langsung menuju Pasar Tumpang ke tempat persinggahan kami. Di sana kami hanya untuk sekedar bersih-bersih badan (mandi) dan sarapan saja. Berhubung total peserta kali ada 20 (dua puluh) orang jadi lumayan harus nunggu lama untuk mandinya karena harus bergantian dan jumlah toiletnya pun hanya ada 3 (tiga). Kebayang kan tuh riweuhnya? Nama tempat kami singgah "Ojek Gunung Semeru", kalau nggak salah. 

Empet-empetan but We're happy!

Perjalanan Pasar Tumpang - Ranu Pani
It's a Mandatory! Foto Dulu
Dari Pasar Tumpang menuju Ranu Pani kami diantar dengan menggunakan Jeep. Wih, seneng banget lah udah lama nggak naik Jeep. Nggak jauh dari tempat singgah, kami mampir dulu ke klinik untuk periksa kesehatan karena Gunung Semeru salah satu gunung yang mewajibkan calon pendaki membawa Surat Keterangan Sehat. Ada beberapa teman kami pun yang harus dilakukan pengecekan beberapa kali seperti Bang Untung yang ternyata hasil pengecekan tekanan darahnya tinggi jadi ybs diistirahatkan sejenak biar lebih relax. Alhamdulillah hasil pengecekan keduanya sudah normal sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan.

Selama perjalanan asik sih, apalagi mulai memasuki kawasan Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tambah excited. Hawa-hawa sejuk makin kental terasa. Wuhuu.. Semacam nostalgia waktu ke Bromo beberapa tahun lalu sih ini. Perjalanan dari Pasar Tumpang - Ranu Pani juga cukup lama yaitu 2 jam. Tenang aja kamu nggak akan bete kok, paling cuma kepanasan aja tapi udaranya sejuk. Masuk kawasan TNBTS kita akan disuguhi pemandangan cantik seperti ini. 

Tepat seperti foto di atas kami berhenti dulu di Kawasan Bromo untuk mengabadikan beberapa moment dengan berfoto (mandatory). Dari sini kami melanjutkan perjalanan kembali ke Ranu Pani. 

Kawasan Bromo
Awal Pendakian
Tiba di Ranu Pani sekitar pukul 13:30 WIB. Ranu Pani sendiri secara administratif berada di wilayah Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Konon katanya desa ini adalah salah satu desa tertinggi di Indonesia karena berada di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut, desa ini adalah desa terakhir sebelum mencapai Semeru. 

Setibanya di Ranu Pani beberapa rekan kami langsung handle untuk urus SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) dengan menyerahkan kelengkapan berkas yang dibutuhkan seperti foto kopi KTP perserta, bukti pembayaran, surat keterangan sehat dan beberapa keperluan lainnya. Saya sendiri memanfatkan waktu yang ada untuk makan siang dan sholat. Kalau travelling gini biasanya saya akan lebih religius karena mikirnya kalau ada apa-apa saat pendakian setidaknya sudah melaksanakan kewajiban. Haha.. 

Setelah urusan per-Simaksi-an beres, kelompok kami diajak menuju ke ruang briefing untuk diberikan penjelasan oleh Relawan Semeru seputar pendakian. Bukan hanya kelompok kami saja, tetapi juga gabung dengan kelompok lainnya. Kami diberi penjelasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pendakian, barang-barang apa saja yang dilarang untuk dibawa saat pendakian, jalur/ rute pendakian, resiko saat pendakian, kisah-kisah tragis yang pernah terjadi, dll. Asli komplit banget, hampir 45 menit-an kami dikuliahi tentang Gunung Semeru. Briefing kayak gini menurut saya penting banget walaupun kita sudah puluhan kali lihat video di Youtube atau baca review dari blog orang lain tentang Gunung Semeru tetep nggak akan sekomplit saat di briefing. Se-enggak nya kasih gambaran real buat yang baru pertama kali datang ke Semeru.

Pukul 16:00 kurang kami memulai pendakian. Dari sini perjalanan seru itu dimulai... (Berlanjut ke part selanjutnya)

Kurang Semangat Kalau Nggak Foto

Foto Keluarga

Video Awal Pendakian Bersama Mbak Mel

2 komentar:

  1. Seru banget kayaknya, rame-rame sama temen. Perjalananya aja udah disuguhi pemandangan yang luar biasa banget, apalagi kalau udah nyampe atas gunung. Emang kalau udah lama nggak olahraga badan jadi gampang capek ya, saya aja yang kerja terus, dan tiba-tiba nemenin emak ke sawah yang kudu naik turun bukit rasanya ngos-ngosan banget😂
    Padahal dulu masih bocil hobinya ke sawah.

    BalasHapus
  2. Ga sabar baca kelanjutannya.kako udh baca Mahameru, aku lgs keinget lagu dewa 19 yg judulnya sama :D.dan itu lagu favoritku bangetttttt.cocok kali ya mendaki Semeru sambil dengerin Mahameru :D

    BalasHapus

Ada pertanyaan atau mau share pengalaman? Silahkan..

Post Top Ad

Your Ad Spot