Cuma Keluyuran

Bukan Jalan-Jalan Cuma Keluyuran

Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Sabtu, 04 Juli 2020

Akhirnya Kesampean Juga Main ke Sanghyang Heuleut, Bandung Barat

Sanghyang Heuleut
CumaKeluyuran | Bermula dari perbincangan singkat Saya dan Mbak Mel via telfon untuk explore ke salah satu Curug di daerah Bogor hari Rabu pekan lalu. Sama seperti teman-teman yang lain, semenjak peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan rasanya kaki udah gatel banget mau main ke banyak tempat. Buat anak keluyuran kayak saya gini bisa jalan-jalan lagi itu sebuah anugerah. Uduuu.. Lebay! Walaupun sudah bisa berpergian lagi, tapi untuk trip kali ini banyak pertimbangannya. Ga bisa dipungkiri si virus Covid-19 ini masih ada, jadi sebisa mungkin cari lokasi yang aman dan nggak terlalu crowded

Awalnya tujuan kami itu main ke Curug Leuwi Hejo, tapi berhubung yang available hanya kami berdua rasanya kurang asik makanya kami reschedule di hari Jumat setelah pulang kerja dengan pertimbangan agar 2 (dua) orang teman kami bisa ikut. Namun, mengingat beberapa minggu belakangan ini hampir setiap weekend objek wisata di Bogor selalu ramai akhirnya kami cari alternatif destinasi lain. Sampailah ketemu kata sepakat Sanghyang Heuleut sebagai destinasi keluyuran kami. 

Ngomongin si danau kecil yang berlokasi di daerah Cipatat, Kabupaten Bandung Barat ini udah lama banget masuk ke dalam wishlist buat dikunjungi. Jadi udah pasti excited banget pas dapat ajakan ini. Tahun 2016 lalu saya pernah ke Padalarang, tetapi hanya sampai ke Stone Garden. Nyesel sih, tapi karena kondisi sudah capek dan waktunya nggak memungkinkan buat explore Sanghyang Heuleut saat itu. 

Bisa dibayangkan waktu itu saya berdua sama teman harus menempuh jarak puluhan kilometer pakai motor dari Tangerang Selatan ke beberapa objek wisata yang ada di Cianjur dan Padalarang seperti Situs Gunung Padang, Curug Cikondang, dan berakhir di Stone Garden. Berangkat dari jam 3 pagi dan sampai rumah jam 11 malam. Semuanya disambangi dalam waktu 1 (satu) hari. Luaarrr biasa! Belum lagi ditambah besoknya harus masuk kerja juga. Ugh... Combo! Rasanya pengen bolos kerja aja gitu. Sayangnya nggak bisa, karena udah kebanyakan bolos. Haha.. *Jangan dicontoh. Kalau sekarang ditantang touring kayak gitu, niscaya nggak akan sanggup. Udah lemah karena faktor U (dibaca: umur) 😁

Meeting Point, 26 Juni 2020
Sesuai kesepakatan kami semua bertemu di CFC RSU Univ. Kristen Indonesia (UKI) pukul 22:00 WIB. Mbak Mel, Halili dan Mbak Dewi tiba lebih awal, lalu disusul oleh saya pukul 21:31. Tanpa menunda-menunda kami langsung tancap gas menggunakan mobil pribadi. Perjalanan kami kemarin relatif lancar, pukul 23.43 kami sudah sampai di rest area km 88. Sengaja kami berhenti di sini untuk istirahat dan melepas kantuk. Nah.. Tepat di depan lokasi parkir mobil kami terdapat Rumah Makan Ciganea yang menyediakan gazebo. Jadi pas banget bisa buat rebahan. Biar bisa berlama-lama di sini kami pesan minum dong, strateginya begitu tuh. Haha.. (tetep jiwa backpacker-nya). Ya kali udah numpang tidur tapi nggak mesen apa-apa.

Sekitar pukul 02:38 kami melanjutkan perjalanan kembali mengarah ke pintu exit tol Padalarang Timur. Setelah keluar pintu tol sejujurnya Saya dan Mbak Mel agak lupa untuk jalan menuju lokasinya sehingga kami putuskan untuk mengaktifkan GPS dengan titik koordinat Waduk Saguling. Wah.. ternyata malah nyasar. Haha.. Lumayan waktu kami terbuang hampir 1 jam. Jadi, tips-nya kalau kamu ke Sanghyang Heuleut langsung saja cari di Gmaps dengan keyword "Sanghyang Heuleut" atau "Pasar Saguling" InsyaAllah titik koordinatnya 100% akurat. Atau patokannya setelah kamu keluar pintu tol Padalarang Timur dan bertemu dengan perempatan langsung lurus saja tanpa belok-belok lagi. 

Sadar kalau ini salah jalan, kami langsung putar balik kembali ke pintu tol exit Padalarang Timur dan mengikuti maps yang seharusnya. Sekitar pukul 4:51 kami berhenti di salah satu pom bensin untuk sholat subuh dan istirahat sejenak (ini trip kebanyakan istirahat-nya 😁). Dari sini lokasinya sudah tidak terlalu jauh, ikuti saja jalannya sampai nanti kamu bertemu gapura besar di sebelah kiri jalan yang bertuliskan PLTA Saguling.  

Tiba di PLTA Saguling, 27 Juni 2020
Meskipun estimasi waktu perjalanan kami meleset 1 jam-an karena salah jalan, tetapi ini hal yang patut disyukuri karena kalau saja kami sampai sini lebih pagi lagi mungkin aja belum ada orang dan masih sangat sepi. Tepat pukul 6.10 kami tiba di warung Kang Ebong. Kang Ebong adalah tour guide yang mengantarkan kami ke lokasi danaunya. Bisa dibilang kami orang pertama yang sampai di sini dan belum ada pengunjung lain. Aseek.. Ini juga salah satu tujuan kami datang lebih awal agar menghindari keramaian. Sebelum trekking menuju lokasi kami sarapan dulu di warung Kang Ebong dengan menu favorit "Indomie + telor". 

Perut sudah terisi, kami langsung memulai trekking. Oh ya ada baiknya saat trekking kamu memakai sepatu atau sandal gunung biar lebih nyaman, nggak kayak saya gini pakai sandal jepit. Di awal perjalanan kamu akan melihat megahnya PLTA Saguling, Rajamandala dengan pipa-pipa besarnya. Pipa-pipa besar ini kamu akan lewati dengan tingkat kemiringan yang curam. Jadi hati-hati ya.. Jangan lupa foto di sini, wajib! Untuk melewati pipa-pipa ini kamu harus sedikit merunduk lalu menaiki tangga besi ke perkebunan pisang. 

Sepanjang perjalanan Kang Ebong juga bercerita bahwa rata-rata penduduk di sini berkebun. Tanah mereka banyak ditanami pohon pisang, tetapi jangan salah jenis pohon pisang di sini tidak berbuah. Penduduk disini menanam pohon pisang sekedar untuk diambil daunnya saja. Kang Ebong juga berpesan kalau sudah mendung segera langsung naik dan kembali ke warung karna dikhawatirkan bisa terjadi banjir. 
Perkebunan Pisang
Setelah melewati jalur setapak perkebunan pisang kamu akan bertemu dengan aliran sungai. Beruntung hari itu aliran sungainya tidak terlalu deras, sehingga kami mudah untuk menyebranginya. Dari sini perjalanan agak sedikit menanjak dan berganti dengan pemandangan pepohonan yang tinggi. Meski track-nya relatif mudah kamu wajib untuk membawa bekal air minum dan camilan yang cukup karena perjalanan ke Sanghyang Heuleut lumayan jauh kurang lebih menghabiskan waktu 1-1,5 jam. Mendekati lokasinya kamu harus berhati-hati karna jalan menuju lokasi utama cukup licin. Batu-batu  besar yang tidak beraturan membuat sulit perjalanan. 
Aliran Sungai
Udah Mulai Deket ke Danaunya
Aktifitas Selama di Sanghyang Heuleut 
Santai di Batu
Wohoo.. Akhirnya sampai juga di kolam purba berwarna hijau tosca ini. Benar saja kami berempat jadi yang pertama sampai di sini. Serasa kolam pribadi ini, segeerr! Kalau habis trekking jauh gini jangan langsung nyebur ya kasih jeda dulu sekitar 30 menit untuk menurunkan suhu tubuh kamu. Santai-santai aja dulu di batuan besarnya, kayak saya gini.  

Banyak aktifitas yang bisa kamu lakukan di sini, mulai dari berenang sampai menjelejahi setiap sudutnya. Jangan khawatir jika kamu nggak mahir berenang, di sini juga disediakan jaket pelampung biar kamu tetap safety. Harga sewanya Rp 15.000,- saja, tapi kalau mau nawar boleh dicoba kok kayak Mbak Mel gini akhirnya kami dapat harga Rp 10.000,- per pelampung (the power of emak-emak 😅). 

Jangan sekali-kali kamu nyebur ke tengah danaunya tanpa dibekali kemampuan berenang yang baik ya karna kedalaman danaunya mencapai 3-5 meter. Cukup dalam! Inget tujuan utamanya adalah happy-happy, jadi ukurlah kemampuan diri sendiri. Kalau tetep memaksakan buat nyebur pakailah pelampung atau didampingi sama teman yang memang bisa berenang.

Buat kamu si penyuka tantangan yang memacu adrenalin silahkan coba untuk loncat dari batuan paling tinggi yang di sana. Percayalah nyali kamu bener-bener diuji. Setelah sampai di atas batunya, perasaan takut buat loncat langsung muncul. Bawaannya ngeri aja gitu. Tapi kalau sudah sampai sini, yakin aja sama diri sendiri bahwa ini aman dilakukan. Kalau sudah gitu langsung aja lompat dan Buuuurrrr.. Arrgh sakiit! Itu yang saya rasakan. Ternyata posisi tangan saya ketika lompat salah euy, seharusnya posisnya lurus. Meski agak sakit, saya ulangi lompatan untuk yang kedua kalinya. Nggak kapok! Belajar dari kesalahan yang sebelumnya lompatan kedua jauh lebih enak dan mendarat dengan sempurna. Buuuurr.. Udah sah nih main ke Sanghyang Heuleut. Oh ya buat lompat kayak gini sebelumnya saya sudah tanya ke Mamang penjaganya bahwa ini aman untuk dilakukan. 
No Edit-Edit Kita Mah
Serasa Kolam Pribadi
Perjalanan Pulang
Sekitar jam 10-an pengunjung lain pun mulai berdatangan. Alhamdulillah kami sudah puas main dan bersiap-siap untuk balik Warung Kang Ebong (tempat parkir mobil). Bener-bener nggak kerasa 3 jam lebih main di Sanghyang Heuleut. Sebelumnya trekking pulang kami mampir dulu ke warung yang ada di sekitar danau untuk sekedar minum teh anget dan makan pop mie. Hehe.. Lagi-lagi saya menumpang tidur di sini sembari ngadem. Aslik habis renang dan makan terasa ngantuuk banget. Tiba-tiba udah jam 13.00 aja. Trekking pulang ternyata terasa lebih berat karena cuacanya terik ditambah banyak jalur yang menanjak. Walaupun begitu kami tetap menikmati semua perjalanannya. 

Tiba di parkiran kami langsung tancap gas untuk cari rumah makan terdekat yang nyaman dan pilihannya jatuh ke Rumah Makan Ampera. Pas banget di dalamnya ada fasilitas Mushola dan toilet bersih jadi bisa sekalian numpang mandi. Haha.. Disini juga kami istirahat agak lama. Enaknya jalan-jalan sendiri tuh begini waktunya nggak terikat dan sesuka hati. Coba kalau ikut open trip pasti harus ngikutin itinerary yang untuk dibuat sama PIC-nya. 

Sebetulnya jika durasi waktu wisata kamu cukup banyak, bisa mempertimbangkan untuk pergi ke Sanghyang Tikoro, Sanghyang Poek dan Sanghyang Kenit yang masih berada dalam satu lokasi. Sayangnya waktu kami terbatas karena harus mengejar sunset di Stone Garden. Untuk cerita Stone Garden akan diulas di part berikutnya ya.. 

Jadi, Kapan atuh main ke sini? 

Share Cost
1. Bensin PP Rp 250.000,-
2. e-Tol PP Rp 110.000,-
3. Tips Guide Rp 70.000,-
4. Retribusi Rp 70.000,- 
5. Sewa Pelampung Rp 50.000,- (4 orang)
 
Total Rp 550.000,- dibagi 4 orang = Rp 137.500,- (Excl jajan/ makan pribadi)

Video Pas Loncat

5 komentar:

  1. Wah asik bener nih tempatnya... jadi pengen main main kesini juga deh rasanya 🤩🤩🤩

    BalasHapus
  2. Tulisannya menarik dan menghibur mass

    Salam
    Blog Jendela Rahman

    BalasHapus
  3. Luar biasa mas perjalanan ke Sanghyang. Jujur, dari destinasi di Jabar yang pernah aku search, aku baru dengar tempat ini. Udah gitu pemandangannya itu lho yang bikin pengen keluyuran mulu. Sepertinya bisa jadi list destinasi di Jabar yg bisa dikunjungi ;)
    Artikel yg bagus dan mengandung gambar yg bikin orang pengen ngeluyur :D

    BalasHapus
  4. Memang bener mas, bagi kita yang suka keluyuran, adanya covid ini bener2 mematikan langkah. Gak bisa kemana mana euyy. Sekalinya bisa kemana2 langsung atur agenda 😂

    BalasHapus

Ada pertanyaan atau mau share pengalaman? Silahkan..

Post Top Ad

Your Ad Spot